Membangun Tatanan Ekonomi Berkeadaban di Tengah Krisis Etika

 


Membangun Tatanan Ekonomi Berkeadaban di Tengah Krisis Etika

Di tengah derasnya arus globalisasi dan meningkatnya kesenjangan sosial, masyarakat Indonesia

menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Banyak

krisis yang kita lihat hari ini bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga menyentuh aspek moral dan

etika.

Ekonomi modern cenderung didorong oleh kepentingan keuntungan semata, sementara nilai-nilai

kemanusiaan dan tanggung jawab sosial sering kali diabaikan. Ketimpangan pendapatan, praktik riba,

monopoli pasar, serta lemahnya perlindungan terhadap pelaku usaha kecil menunjukkan bahwa sistem

yang ada belum mampu menciptakan keseimbangan yang dibutuhkan rakyat.

Dalam situasi seperti ini, muncul kebutuhan untuk meninjau kembali arah dan nilai dasar yang

menjadi fondasi sistem ekonomi kita. Kita memerlukan tatanan ekonomi baru yang tidak hanya efisien,

tetapi juga berkeadaban—mengutamakan etika, tanggung jawab sosial, dan keberpihakan pada

keadilan.

Nilai-Nilai Dasar dalam Tatanan Ekonomi Berkeadaban

1. Keadilan dalam Distribusi Kekayaan

Sistem ekonomi yang ideal harus menjamin agar kekayaan tidak berputar di kalangan tertentu saja.

Akses terhadap peluang ekonomi harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh lapisan masyarakat.

📖 “…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

(QS. Al-Hasyr: 7)

2. Transaksi yang Transparan dan Etis

Setiap bentuk kegiatan ekonomi harus didasarkan pada kejujuran dan saling ridha antara pihak-pihak

yang terlibat. Praktik curang, eksploitasi, dan ketidakjelasan dalam transaksi harus dihindari.

📖 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara

yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang dilakukan atas dasar suka sama suka di antara kamu.”

(QS. An-Nisa: 29)

📜 Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang

yang benar, dan para syuhada."

(HR. Tirmidzi)

3. Tanggung Jawab Sosial Pelaku Ekonomi

Keuntungan tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. Dunia usaha harus menyadari perannya dalam

menyejahterakan masyarakat, termasuk memperhatikan lingkungan dan kelompok rentan.📖 “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam

dosa dan permusuhan.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

4. Penguatan Peran Komunitas dan Usaha Mikro

Pelaku UMKM perlu dilindungi dan didukung karena mereka adalah tulang punggung perekonomian

rakyat. Sistem yang sehat adalah sistem yang memberi ruang tumbuh bagi yang kecil, bukan hanya

memperkuat yang besar.

📖 “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi

ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Termasuk dalam hal ini adalah memberdayakan masyarakat kecil agar berdaya secara ekonomi dan

sosial.

Refleksi untuk Indonesia Hari Ini

Beban utang, ketergantungan pada sistem bunga, serta meningkatnya biaya hidup menunjukkan

bahwa sistem yang ada tidak bisa sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat kecil. Literasi ekonomi

yang rendah, khususnya di bidang keuangan yang etis, menjadi tantangan tersendiri.

📖 “…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

(QS. Al-Baqarah: 275)

Namun, peluang perbaikan selalu ada. Dengan membangun kesadaran kolektif akan pentingnya nilai

moral dan tanggung jawab sosial dalam aktivitas ekonomi, bangsa ini dapat bergerak menuju sistem

yang lebih adil, seimbang, dan manusiawi.

Penutup

Krisis ekonomi yang kita hadapi bukan hanya soal angka dan data, tetapi juga tentang krisis nilai. Oleh

karena itu, membangun tatanan ekonomi berkeadaban bukanlah pilihan idealis semata, melainkan

kebutuhan mendesak untuk menjawab realitas yang ada. Sebuah sistem ekonomi yang menjunjung

tinggi keadilan, etika, dan keberpihakan pada rakyat adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Posting Komentar

0 Komentar